tugas ilmu komunkasi

|

Sosialisasi Generasi Muda Terhadap Perpustakaan Keliling

A. Latar Belakang Masalah

Istilah “perpustakaan”[1] memang sudah tidak asing lagi bagi seorang pelajar, begitu juga bagi para pekerja kantor dan masyarakat, baik yang berpendidikan maupun yang tidak. Mengapa demikian? Alasannya adalah di Indonesia terdapat kesenjangan budaya dan intelektualitas disebabkan oleh peradaban yang belum merata di antara seluruh bangsa.

Dengan berkembangnya intelektual masyarakat dan kemajuan teknologi dari dasawarsa ke dasawarsa dan dari abad ke abad, menyebabkan perpustakaan tidak lagi hanya sebagai tempat penghimpunan dan peminjaman buku, melainkan juga sebagai bahan-bahan telaah lainnya, baik dalam bentuk media visual, maupun media audio dan media audio-visual.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perpustakaan hadir tidak hanya sebagai sarana edukatif dan rekreatif, tetapi juga sebagai sarana informatif, kreatif dan inovatif, sejalan secara simbiosis dengan perkembangan masyarakat dan kemajuan teknologi[2].

Namun, tidak semua orang bisa menikmati perpustakaan yang tersedia di masing-masing daerah, atau dalam suatu lembaga pendidikan lantaran minimnya pengetahuan mereka tentang wacana tersebut atau dikarenakan fasilitas buku-buku perpustakaan yang kurang memadai.

Saat ini pula, masih kita jumpai dilingkungan pedesaan yang jauh dari peradaban media komunikasi modern belum bisa baca tulis (buta huruf) dengan alasan faktor pendidikan mereka yang rendah. Selain itu, mereka juga mengeluh semakin mahalnya biaya pendidikan serta harga buku-buku pelajaran bagi anak-anak mereka. Oleh karena itu, kita sebagai pemuda yang peduli terhadap lingkungan sekitar perlu memperhatikan hal tersebut. Sebab, bangsa ini akan semakin maju jika generasi penerusnya berwawasan luas, ber-IPTEK dan ber-IMTAQ serta cinta tanah air dan bangsa.

Sedang kita tahu bahwa salah satu cara untuk memperluas khazanah intelektual kita adalah dengan membaca buku terkait dengan fungsi perpustakaan, maka kita sebagai pemuda yang berpendidikan patut menyumbangkan ide/pikiran tentang solusi bagi masyarakat yang kurang bisa menjangkau media intelektual tersebut. Dengan kata lain, memberikan sumbangsih yakni mengadakan sosialisasi perpustakaan keliling. Dengan mengadakan kegiatan ini, diharapkan masyarakat menengah ke bawah mampu memanfaatkannya sebaik mungkin dan dapat mengurangi buta huruf yang menjangkit masyarakat sekitar serta mampu mengembangkan minat baca mereka terhadap buku.

Dalam membahas kegiatan ini, perlu terlebih dahulu dijelaskan secara ringkas pengertian komunikasi[3], unsur-unsur komunikasi, efektivitas komunikasi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, guna terealisasinya kegiatan sosialisasi perpustakaan keliling sesuai dengan perencanaan komunikasi. Pertama, pengertian komunikasi dalam garis besarnya adalah penyampaian informasi dan pengertian dari seseorang kepada orang lain. Dengan kata lain, kedua belah pihak dapat saling memahami (komunikatif), baik dari pengirim pesan (komunikator) maupun penerima pesan (komunikator)[4].

Kedua, unsur-unsur atau komponen komunikasi yang terdiri dari: komunikator (orang yang menyampaikan pesan), pesan (pernyataan yang didukung oleh lambang), komunikan (orang yang menerima pesan), media (sarana atau saluran yang mendukung pesan bila komunikan jauh tempatnya atau banyak jumlahnya) dan efek (dampak sebagai pengaruh dari pesan)[5].

Ketiga, untuk mencapai tingkat efektivitas komunikasi, maka harus kita sadari bahwa komunikan memiliki sifat yang selektif dalam memilih media massa yang akan digunakannya. Dan keselektivitasan komunikan dalam memilih pesan tergantung pada dua faktor, yakni expectation of reward (mengharapkan ganjaran) dan effort to be required (menghendaki suatu usaha)[6]. Adapun fakkor-faktor yang mempengaruhi komunikasi pada umumnya, yakni kemungkinan berbagai hambatan yang dapat timbul, diantaranya: kebisingan, keadaan psikologis komunikan, kekurangan ketrampilan komunikator atau komunikan, kesalahan penilaian oleh komunikator, kurangnya pengetahuan komunikator/komunikan, bahasa, isi pesan berlebihan, bersifat satu arah, faktor teknis, kepentingan/interest, prasangka, cara penyampaian terlalu verbalistik dan sebagainya[7].

Namun, untuk merealisasikan kegiatan ini, perlu dibahas terlebih dahulu tentang perencanaan komunikasi guna suksesi kegiatan sosialisasi perpustakaan keliling tersebut. Maka, makalah ini akan membahas sekelumit tentang perencanaan komunikasi dalam rangka pendekatan sosialisasi perpustakaan keliling di pedesaan terbelakang. Dalam artian, pedesaan yang belum tersentuh oleh media komunikasi modern.

B. Rumusan Masalah

Untuk memperjelas permasalahan dan mempermudah pembahasan, maka rumusan masalah akan dijabarkan dalam poin-poin berikut ini:

1. Bagaimana perencanaan komunikasi dalam rangka pendekatan terhadap sosialisasi perpustakaan keliling dapat berlangsung sesuai dengan sistem komunikasi yang komunikatif?

2. Sejauh mana peran serta dan pengaruh perencanaan komunikasi tersebut terhadap masyarakat (komunikan)?

C. Pembahasan

Sebagaimana keterangan di atas, dalam rangka pendekatan terhadap sosialisasi perpustakaan keliling, diperlukan perencanaan komunikasi yang matang, agar dapat berlangsung secara komunikatif. Dengan demikian, terdapat empat elemen utama perencanaan, yaitu:

1. Tujuan (objective). Kondisi masa depan yang akan dicapai.

2. Aksi (Action). Serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan.

3. Sumber Daya (Resources). Hal-hal yang dibutuhkan dalam melaksakan aksi.

4. Pelaksanaan (Implementation). Tata cara dan arah pelaksanaan kegiatan[8].

1.) Tujuan (objective)

Tujuan interaksi/komunikasi adalah keterpaduan antara konsep diri dengan konsep orang lain, suatu kemampuan yang sempurna untuk mengantisipasi, menduga dan bertindak selaras dengan kebutuhan bersama antara diri sendiri dengan orang lain[9]. Adapun tujuan dari komunikasi dalam rangka pendekatan terhadap sosialisasi perpustakaan keliling adalah:

a. Mengubah sikap (to change the attitude). Agar masyarakat (komunikan) mengerti pesan yang kita sampaikan sehingga mereka dapat mengikuti apa yang kita maksudkan.

b. Mengubah opini/pendapat/pandangan (to change the opinion). Kita sebagai komunikator yang baik, maka kita harus mengetahui aspirasi masyarakat (komunikan) tentang apa yang diinginkannya. Dengan kata lain, memahami orang lain dan tidak mengedapankan pendapat kita. Sehingga masyarakat dengan leluasa mampu mengembangkan dan mengolah opini/pendapat mereka setelah diadakannya kegiatan ini.

c. Mengubah perilaku (to change the behavior). Supaya pendapat/gagasan kita dapat diterima orang lain, maka kita harus berusaha agar gagasan kita dapat mereka terima dengan pendekatan persuasif tanpa memaksakan kehendak mereka. Dengan mengadakan kegiatan ini, diharapkan masyarakat mau memanfaatkan media kepustakaan yang disediakan, mampu memahami dan mengaplikasikannya dalam kehidupan.

d. Mengubah masyarakat (to change the society). Dalam artian, menggerakkan masyarakat untuk melakukan sesuatu, yakni dengan melakukan kegiatan sosialisasi ini, diharapkan masyarakat terdorong/tergerak hatinya untuk membaca dan sebagainya[10].

2.) Aksi (action). Setelah kita mengetahui tujuan diadakannya sosialisasi perpustakaan keliling ini, selanjutnya kita membahas aksi yang perlu dilakukan, yakni:

a. Pendekatan kemasyarakatan. Yakni melalui mekanisme sosio-kultural. Hal ini tidak lepas dari proses komunikasi yang akan dilancarkan. Agar kita sebagai komunikator mengetahui opini/pendapat mereka serta mengetahui apa yang mereka inginkan, maka kita perlu mengenal masyarakat/turun lapangan terlebih dahulu agar tidak terjadi “ledakan-ledakan” yang tidak diinginkan.

b. Pendekatan koordinatif dan integratif. Dengan kata lain, untuk mempercepat tercapainya tujuan, maka perlu dilakukan koordinasi dan integrasi antara pelaksana/pantia kegiatan tersebut (komunikator) dengan para anggotanya, begitu juga koordinasi dengan masyarakat (komunikan). Dan menyusun kegiatan tersebut sehingga masyarakat paham akan isi pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut[11].

c. Pendekatan edukatif dan persuasif. Pendekatan ini mempunyai peranan penting untuk mencapai perubahan sikap mental yang negatif dari sasaran kita (masyarakat), terutama dari media massa agar lebih berperan serta secara positif dalam ikut mewujudkan tujuan dari sosialisasi perpustakaan keliling. Dengan kata lain, menetapkan metode penyampaian yang akan digunakan. Baik itu dari segi pelaksanaannya, maupun bentuk isinya[12].

d. Seleksi dan penggunaan media. Penggunaan medium[13] sebagai alat penyalur ide, dalam rangka merebut pengaruh dalam masyarakat, merupakan suatu keharusan. Karena, selain media komunikasi mampu menjangkau jumlah besar khalayak masyarakat, juga mempunyai fungsi sosisal yang kompleks. Dengan kata lain, kita harus cermat/selektif dalam memilih media komunikasi yang akan kita gunakan dalam pelaksanaan kegiatan sosialisasi perpustakaan keliling tersebut[14].

3.) Sumber daya (resources). Setelah kita merencanakan aski tersebut, langkah berikutnya yakni sumber daya. Dalam artian, hal-hal yang dibutuhkan dalam melaksanakan aksi. Diantaranya adalah:

a. Menentukan jenis media yang akan digunakan. Baik berupa media visual, maupun media audio dan media audio-visual.

b. Proses komunikasi yang komunikatif, baik itu antara panitia pelaksana (komunikator) dengan khalayak masyarakat (komunikan) atau dari segi penyampaian pesan dan unsur-unsur komunikasi lainnya.

c. Mengaplikasikan/menerapkan teknik komunikasi persuasif. Dalam hal ini terdapat tahapan dalam komunikasi persuasif yang perlu dilaksanakan secara sistematis yakni suatu formula yang disebut dengan AIDDA (attention [perhatian], interest [minat], desire [hasrat], decision [keputusan], action [kegiatan]) yang dapat dijadikan sebagai landasan pelaksanaan, agar masyarakat tergerak hatinya/berminat untuk mengikuti kegiatan sosialisasi tersebut[15].

4.) Pelaksanaan (implementation). Hal ini berhubungan dengan tata cara dan arah pelaksanaan kegiatan. Dan pelaksanaan (implementation) ini akan kita selenggarakan setelah melaksanakan tahap-tahap perencanaan di atas yang telah disebutkan. Adapun tata cara pelaksanaan kegiatan sosialisasi perpustakaan keliling adalah sebagai berikut:

a. Menyelidiki dan mendengar (fact finding). Hal ini meliputi penelitian pendapat, sikap dan reaaksi masyarakat. Dengan begitu, kita akan mengetahui masalah apa yang sedang mereka hadapi. Sebagai contoh: minimnya masyarakat yang bisa baca tulis dan minimnya biaya orang tua untuk membelikan buku-buku pelajaran bagi anak mereka. Dengan mengadakan kegiatan ini, diharapkan bisa sedikit membantu mengurangi beban mereka. Selain itu juga membantu mengeluarkan mereka dari kebuta hurufan.

b. Mengambil ketentuan dan merencanakan (planning) setelah pendapat, sikap dan reaksi masyarakat dianalisa, lalu diserahkan dengan kebijaksanaan dan kegiatan organisasi (yakni berupa kegiatan sosialisasi). Pada taraf ini bisa ditemukan “pilihan yang diambil”.

c. Melaksanakan komunikasi (communication). Rencana-rencana di atas harus dikomunikasikan dengan semua pihak yang bersangkutan dengan metode yang sesuai. Dengan tahap ini kita “menerangkan (menjelaskan) tindakan yang diambil dan apa alasan jatuhnya pilihan tersebut”. Setelah mendapat kesepakatan dari semua pihak, maka kegiatan akan disahkan. Dalam hal ini, kita mengambil tema sosialisasi perpustakaan keliling.

d. Penilaian (evaluation). Dinilai dari segi-segi berhasil tidaknya, apa sebab-sebabnya, apa yang sudah dicapai, apa resep kemanjurannya dan apa faktor pennghambatnya. Bagaiman hasil pelaksanaan tugas dan sebab-sebabnya “itulah pertanyaan yang timbul dalam tahap ini”[16].

Adapun rencana kegiatan tersebut adalah:

a. Tema kegiatan: “Sosialisasi Generasi Muda Terhadap Perpustakaan Keliling”

b. Komunikator : panitia pelaksana yang terdiri dari pelajar SMU sederajat dan mahasiswa serta pihak instansi yang terkait.

c. Komunikan: masyarakat setempat. Baik untuk anak-anak maupun orang tua.

d. Pesan yang disampaikan:

- Spanduk dan baleho: “Dengan Membaca Buku, Kita Raih Cakrawalala Dunia”.

- Radio: mengajak masyarakat untuk gemar membaca buku. Dan mempublikasikan sosialisasi perpustakaan keliling.

e. Media yang digunakan:

e. Adapun media yang digunakan adalah:

- Alat transportasi: mobil dan sepeda motor.

- Media visual: baleho dan spanduk.

- Media audio visual: radio, mikrophon (mic) sound system (pengeras suara).

- Buku-buku bacaan yang akan disosialisasikan. Baik umum maupun buku yang berbasis pendidikan.

f. Alasan memilih media:

- Baleho dan spanduk lebih mudah dipahami oleh masyarakat.

- Mobil dan sepeda motor: sebagai alat yang mudah untuk menjangkau pedesaan.

- Mikrophon dan sound system merupakan media yang efektif dalam mempublikasikan kegiatan sosialisasi tersebut.

- Dengan radio akan lebih mudah untuk mempublikasikan kegiatan yang disampaikan melalui media audio.

- Buku perpustakaan merupakan khazanah kepustakaan yang digunakan sebagai media visual.

g. Model pelaksanaan:

- Petugas perpustakaan berkeliling dari desa ke desa dengan mengendarai mobil khusus perpustakaan.

- Pelaksanaan sosialisasi adalah setiap hari. Mengenai waktu dan tempat kondisional atau sesuai dengan kesepakatan antara panitia atau petugas dengan masyarakat dari desa terkait.

D. Simpulan

Setelah penulis membahas makalah tentang perencanaan komunikasi dalam rangka pendekatan sosialisasi perpustakaan keliling yang telah diterangkan sebelumnya, maka penulis akan kemukakan secara ringkas beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Bahwa perpustakaan merupakan suatu media komunikasi, baik berupa media visual, maupun audio dan audio-visual yang sudah dikenal oleh sebagian besar masyarakat. Baik itu dari kalangan pelajar, para pekerja dan sebagainya. Namun tidak semua orang dapat menikmati fasilitas perpustakaan yang telah disediakan.

2. Masih kita dapati suatu daerah tertentu (pedesaan) secara mayoritas, komunitas masyarakatnya buta huruf dan rendahnya pendidikan mereka lantaran faktor ekonomi serta jauh dari jangkauan media komunikasi.

3. Mengingat banyaknya masyarakat pedesaan yang masih buta huruf dan rendahnya pendidikan mereka, maka sebagai generasi muda yang berpendidikan, patut memberi solusi yakni mengadakan kegiatan sosialisasi perpustakaan keliling, guna mengentaskan buta huruf serta meningkatkan kualitas intelektual mereka, terlebih bagi anak-anak mereka.

4. Dalam melaksanakan kegiatan tersebut, penulis membuat perencanaan komunikasi dalam rangka pendekatan terhadap sosialisasi perpustakaan keliling yang meliputi empat elemen utama perencanaan yaitu:

a. Tujuan (objective). Kondisi masa depan yang akan dicapai.

b. Aksi (Action). Serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan.

c. Sumber Daya (Resources). Hal-hal yang dibutuhkan dalam melaksakan aksi.

d. Pelaksanaan (Implementation). Tata cara dan arah pelaksanaan kegiatan[17].

5. Dengan diadakannya kegiatan ini, penulis memprediksikan bahwa kegiatan ini akan memberikan (menghasilkan) pengaruh positif bagi masyarakat di daerah/pedesaan tersebut, maupun juga bagi panitia pelaksana (yakni generasi muda) yakni menambah khazanah intelektual mereka terhadap wacana kepustakaan, mengurangi kebuta hurufan (tidak bisa baca tulis), juga meningkatkan minat baca mereka terhadap buku. Perlu kita ketahui, bahwa semua ini akan terealisasi dengan sukses jika antara unsur-unsur komunikasi (komunikator, komunikan, pesan, media dan efek) berlangsung dengan lancar dan komunikatif.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Anwar, Strategi Komunikasi, Cetakan ke-2, Bandung: CV Armico Bandung, 1982.

Erna, Awanda, http://awandaerna.multiply.com/journal/item/3

Hanafi, Abdillah, Memahami Komunikasi Antar Manusia, Surabaya: Usaha Nasional, 1984.

Rakhmat, Jalaluddin, psikologi komunikasi, Cetakan ke-26, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008.

Uchana Effendy, Onong , Dinamika Komunikasi, Cetakan ke-3, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1993.

Uchana Effendy, Onong, Ilmu, Teori Dan Filsafat Komunikasi, Cetakan ke- 3, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2003.

Widjaja, A.W., Komunikasi: Komunikasi dan Hubungan Masyrakat, Edisi I, Cetakan ke-2, Jakarta: Bumi Aksara, 1993.



[1]Istilah “perpustakaan” atau dalam bahasa Inggris library berasal dari kata latin librarius, yang secara harfiah berarti “kumpulan buku”. Lihat Prof. Drs. Onong Uchana Effendy, M.A., Dinamika Komunikasi, cet. 3, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1993), 199.

[2] Prof. Drs. Onong Uchana Effendy, M.A., Dinamika Komunikasi, cet. 3, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1993), 199.

[3] Istilah “komunikasi” diambil dari perkataan Inggris communication yang bersumber dari bahasa latin communicatio yang artinya pemberitahuan, pemberian bagian (dalam sesuatu). Kata sifat dari communis yang artinya bersifat umum dan terbuka. Bersama-sama (common, commoness). Kata kerjanya communicare yang artinya bermusyawarah, berunding atau berdialog. Untuk lebih jelasnya, lihat Drs. Anwar Arifin, Strategi Komunikasi, Cet. 2, (Bandung: CV Armico Bandung, 1982), 14. Lihat juga dalam Prof. Drs. Onong Uchana Effendy, M.A., Dinamika Komunikasi, Cet. 3, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1993), 3-4.

[4] Drs. A.W. Widjaja, Komunikasi: Komunikasi dan Hubungan Masyrakat, Ed. 1, Cet. 2, (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), 8.

[5] Ibid, 6.

[6] Ibid, 25.

[7] Ibid, 25-26.

[9] Drs. Abdillah Hanafi, Memahami Komunikasi Antar Manusia, (Surabaya: Usaha Nasional, 1984), 284.

[10] Prof. Drs. Onong Uchana Effendy, M.A., Ilmu, Teori Dan Filsafat Komunikasi, Cet. 3, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2003), 55. Lihat juga dalam buku Drs. A.W. Widjaja, Komunikasi: Komunikasi dan Hubungan Masyrakat, Ed. 1, Cet. 2, (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), 10-11.

[11] Drs. A.W. Widjaja, Komunikasi: Komunikasi dan Hubungan Masyrakat, Ed. 1, Cet. 2, (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), 60.

[12] Drs. Anwar Arifin, Strategi Komunikasi, Cet. 2, (Bandung: CV Armico Bandung, 1982), 72.

[13] “Media atau medium” berasal dari bahasa Latin yang berarti saluran atau alat menyalurkan. Dalam pengertian jamak memakai istilah media, sedang dalam pengertian tunggal memakai istilah medium. Selengkapnya lihat dalam buku Drs. Anwar Arifin, Strategi Komunikasi, Cet. 2, (Bandung: CV Armico Bandung, 1982), 23.

[14] Ibid, 78.

[15] Prof. Drs. Onong Uchana Effendy, M.A., Dinamika Komunikasi, Cet. 3, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1993), 25.

[16] Drs. A.W. Widjaja, Komunikasi: Komunikasi dan Hubungan Masyrakat, Ed. 1, Cet. 2, (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), 56.

Makalah ilmu komunikasi

|

1. Pendahuluan

Perkembangan pesat dalam dunia sistem komunikasi tentunya akan mengubah pola komunikasi yang terjadi di masyarakat selama ini. sebelum adanya media massa, nyaris sistem komunikasi yang berkembang di Indonesia masih memakai peralatan sederhana. Misalnya, dilakukan dengan peralatan media tradisional atau melalui komunikasi tatap muka. Setelah ditemukan surat kabar, komunikasi sangat dipengaruhi kebenaran media cetak tersebut. Disusul dengan adanya televisi yang kian waktu semakin berkembang hingga perkembangan media komunikasi berbasis teknologi canggih seperti internet.

Tentunya, media komunikasi mampu melahirkan banyak hal positif yang dapat membantu dan memudahkan kehidupan. Akan tetapi, di satu sisi lainnya, fenmena yang terjadi adalah komunikasi justru bergeser jauh dari tujuan dan fungsinya. Tak jarang, media komunikasi hanya dijadikan instrument untuk hal negatif seperti untuk propaganda atau menyebar issue negatif. Hal ini tentunya akan membawa dampak bagi pada pengguna media tersebut, baik dari kalangan dewasa sampai anak-anak.

Dalam makalah sederhana ini, penulis menjelaskan sekelumit tentang tipe komunikasi, jaringan komunikasi, efek media massa, dan fenomena modern.

2. Tipe dan Jaringan Komunikasi

Dalam ilmu komunikasi, tipe komunikasi dibagi menjadi dua, yaitu tipe komunikasi primer dan sekunder. Pertama, tipe komunikasi primer: komunikasi yang bersifat langsung (face to face) baik dengan menggunakan bahasa, gerakan yang diartikan secara khusus, ataupun aba-aba. Tipe komunikasi ini bisa berbentuk pertemuan, kelompok (kuliah) maupun massa seperti tabligh akbar, acara pameran, dll. Betapapun besarnya, pengaruh komunikasi jenis ini tidak dapat melalui sebuah wilayah geografis yang sangat sempit dan terbatas. Kedua, tipe komunikasi sekunder, adalah komunikasi yang menggunakan alat, media seperti menggunakan surat (interpersonal), menonton pagelaran nasyid (kelompok), maupun media koran atau TV (massa), yang berfungsi untuk melipatgandakan penerima, sehingga dapat mengatasi hambatan geografis dan waktu.

Jaringan komunikasi terdiri dari jaringan komunikasi tradisional dan jaringan komunikasi modern[1]. Ciri pola komunikasi tradisional adalah bahwa komunikasi ini berlangsung secara tatap muka, sehingga terjelma hubungan interpersonal yang mendalam, hubungan dengan status yang berbeda (patron client), serta pemberi pesan dinilai oleh penerima berdasarkan identitasnya (lebih pada siapa yang berbicara, bukan isi dari apa yang dibicarakan). Sedangkan jaringan komunikasi modern, cirinya adalah adanya inovator (penggagas, pencipta media), dan melalui media massa yang bersifat simultan, lebih umum, dan komunikannya heterogen. Media yang dapat digunakan dalam kegiatan hubungan masyarakat[2]:

a. The printed word, termasuk majalah, surat kabar, surat, buletin, iklan, dan lain sebagainya.

b. The spoken word, yang meliputi rapat, konferensi, pertemuan-pertemuan, dll.

1

c. Media lainnya (dapat berupa spoken word, dan dapat juga bukan. Seperti Televisi, radio, pameran, sandiwara, dll.

Perkembangan yang semakin pesat di bidang teknologi komunikasi memiliki pengaruh yang besar terhadap kegiatan penyebar luasan informasi. Ini berarti pula berpengaruh terhadap kegiatan hubungan masyarakat. Media massa (pers, televisi, radio, film) sangat membantu kegiatan hubungan masyarakat. Dengan menggunakan media massa ini penyebar luasan informasi bukan saja sangat luas tetapi juga cepat dan serempak. Penggunaan media massa dalam kegiatan hubungan masyarakat ini pada umumnya berupa publicity dan advertising.

Membahas masalah media dalam masyarakat, sebenarnya yang menjadi permasalahan ialah bagaimana memilih media yang tepat dalam kegiatan hubungan masyarakat, agar dapat seefisien mungkin tercapai hasil yang efektif, sehingga tujuan dari kegiatan hubungan masyarakat yang dilakukan oleh lembaga/instansi dapat tercapai[3]. Untuk ini, pada umumnya harus ditentukan terlebih dahulu pesan apa yang hendak disampaikan, dan jumlah publik yang akan dicapai. Misalkan saja untuk mencapai publik yang luas tentu harus menggunakan media yang cakupannya lebih luas pula, seperti surat kabar, misalnya. Namun sebaliknya, jika yang dituju sekedar masyarakat sekitar, maka cukup dengan melalui personal contact, dan dapat diikuti dengan pertemuan-pertemuan lainnya.

3. Efek Komunikasi Massa

Komunikasi merupakan suatu kegiatan penyampaian pesan dari seorang komunikator kepada komunikan dimana komunikan akan memberikan umpan balik kepada komunikator sebagai umpan balik atau tanggapan dari pesan yang di terimanya. Komunikasi dapat berupa komunikasi internal dan eksternal, komunikasi internal merupakan sebuah komunikasi yang dilakukan seorang individu terhadap dirinya sendiri mengenai apa yang hendak dilakukan. Sedangkan komunikasi eksternal merupakan komunikasi seorang individu dengan orang lain seperti halnya percakapan yang kita lakukan dalam sehari-hari.

Di sisi lain terdapat juga sebuah komunikasi yang disebut dengan komunikasi massa yakni sebuah komunikasi yang di tujukan kepada khalayak dengan menggunakan media massa atau dapat juga komunikasi secara langsung seperti halnya pada acara seminar-seminar atau diskusi panel. Komunikasi massa tiak hanya memberi dampak yang positif dalam penerimaan sebuh pesan tapi kadang juga menimbulkan efek pada kognitif, afektif, dan behavioristik.

Ada tiga dimensi efek komunikasi massa, yaitu: kognitif, afektif, dan behavioristik[4]. Efek kognitif meliputi peningkatan kesadaran, belajar dan tambahan pengetahuan. Efek efektif berhubungan dengan emosi, perasaan, dan attitude (sikap). Sedangkan efek behavioristik berhubungan dengan perilaku dan niat untuk melakukan sesuatu menurut cara tertentu.

Sebuah komunikasi massa dapat dikatakan mampu memberi efek proposial kognitif ketika kita tahu setelah seseorang membaca atau melihat televisi mampu dan lebih mengerti bagaimana cara penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Akan tetapi dalam hal ini kadang komunikasi masa tidak memberi efek yang proposial tapi kadang malah merubah citra dari para pemirsa, pembaca maupun pendengar dimana citra itu akan diruah sesuai dengan apa yan menjadi tujuan penyampaian pesan.

Dalam efek afektif komunikasi massa juga dapat memberikan efek yang proposial setelah kita menyaksikan atau bahkan mengalami dimana setelah kita membaca majalah atau melihat yang di dalamnya memuat berita mengenai kemiskinan atau suatu hal yan membuat perasaan kita menjadi ikut terbawa dalam situasi tersebut sehingga kita terdorong untuk melakakukan kebaikan terhadap apa yang kita lihat. Yakni membuat fungsi afeksi kita menjadi lebih peka terhadap lingkungan yang ada disekitar kita.

Kemudian begitu juga dalam efek behavioral, komunikasi massa akan terkesan menghasilakan efek yang proposial dalam behavioral ketika kita menyaksikan sebuah tayangan-tayangan televisi yang mampu membuat kita terpengaruh menjadi lebih terampil atau mungkin lebih bisa bersikap sebagaimana yang sesuai dengan diri kita, atau ketika kita membaca sebuah majalah yang di dalamnya memuat pasan- pesan yang dapat meningakatkan skill kita dalam kehidupan sehari-hari. Namun dalam efek ini terdapat juga sisi negatifnya dan kita dapat merasakan itu merupakan suatu efek behavioral yang negatif dari adanya komunikasi massa ketika kita melihat kasus pemerkosaan yang terjadi setelah tersangka menyaksikan adegan-adegan pornoaksi pada layar kaca, atau mungkin juga adegan pornografi pada sebuah majalah yang mana pesan tersebut akan merngsang pada khalayak yang berperan sebagai komunikan.

Sebenarnya kalau diamati lebih detail lagi yang maenbawa dampak tidak hanya pesan yang disampaikan dalam komunikasi massa akan tetapi mediannya sendiri juga membawa dampak. Yang mungkin pada awalnya yang menjadi perhatian adalah pesan yang disampaikan akan tatapi lama kelamaan mediannyalah yang lebih diperhatikan tanpa melihat isi pesan yang ingin disampaikan dalam komunikasi massa tersebut. Kadang media masa menjadikan seseorang lebih percaya terhadap media tersebut di bandingkan dengan lingkungan sekitarnya, misalnya saja pada seorang anak yang kesehariannya lebih dipenuhi dengan acara-acara televisi dibandingkan dengan bimbingan orang tuanya maka anak tersebut akan lebih percaya pada televisi dari pada percaya pada orang tuanya. Hal itu mungkin terjadi karena sebuah pangalaman pribadi yang sangat mengena yang berkenaan dengan media massa tersebut.

Mengapa terjadi efek yang berbeda? Belajar dari media massa memang tidak bergantung hanya ada unsur stimuli dalam media massa saja. Kita memerlukan teori psikologi yang menjelaskan peristiwa belajar semacam ini. Teori psikolog yang dapat menjelaskan efek prososial adalah teori belajar sosial dari Bandura. Menurutnya, kita belajar bukan saja dari pengelaman langsung, tetapi dari peniruan atau peneladanan (modeling). Perilaku merupakan hasil faktor-faktor kognitif dan lingkungan. Artinya, kita mampu memiliki keterampilan tertentu, bila terdapat jalinan positif antara stimuli yang kita amati dan karakteristik diri kita.

Bandura menjelaskan proses belajar sosial dalam empat tahapan proses: proses perhatian, proses pengingatan (retention), proses reproduksi motoris, dan proses motivasional.

Permulaan proses belajar ialah munculnya peristiwa yang dapat diamati secara langsung atau tidak langsung oleh seseorang. Peristiwa ini dapat berupa tindakan tertentu (misalnya menolong orang tenggelam) atau gambaran pola pemikiran, yang disebut Bandura sebagai “abstract modeling” (misalnya sikap, nilai, atau persepsi realitas sosial). Kita mengamati peristiwa tersebut dari orang-orang sekita kita.bila peristiwa itu sudah dianati, terjadilah tahap pertama belajar sosial: perhatian. Kita baru pata mempelajari sesuatu bila kita memperhatikannya. Setiap saat kita menyaksikan berbagai peristiwa yang dapat kita teladani, namun tidak semua peristiwa itu kita perhatikan.

Perhatian saja tidak cukup menghasilkan efek prososial. Khalayak harus sanggup menyimpan hasil pengamatannya dalam benak-benaknya dan memanggilnya kembali ketika mereka akan bertindak sesuai dengan teladan yang diberikan. Untuk mengingat, peristiwa yang diamati harus direkam dalam bentuk imaginal dan verbal. Yang pertama disebut visual imagination, yaitu gambaran mental tentang peristiwa yang kita amati dan menyimpan gambaran itu pada memori kita. Yang kedua menunjukkan representasi dalam bentuk bahasa. Menurut Bandura, agar peristiwa itu dapat diteladani, kita bukan saja harus merekamnya dalam memori, tetapi juga harus membayangkan secara mental bagaimana kita dapat menjalankan tindakan yang kita teladani. Memvisualisasikan diri kita sedang melakukan sesuatu disebut seabagi “rehearsal”.

Selanjutnya, proses reroduksi artinya menghasilkan kembali perilaku atau tindakan yang kita amati. Tetapi apakah kita betul-betul melaksanakan perilaku teladan itu bergantung pada motivasi? Motivasi bergantung ada peneguhan. Ada tiga macam peneguhan yang mendorong kita bertindak: peneguhan eksternal, peneguhan gantian (vicarious reinforcement), dan peneguhan diri (self reinforcement). Pelajaran bahasa Indonesia yang baik dan benar telah kita simpan dalam memori kita. Kita bermaksud mempraktekkannya dalam percakapan dengan kawan kita. Kita akan melakukan hanya apabila kita mengetahui orang lain tidak akan mencemoohkan kitam atau bila kita yakin orang lain akan menghargai tindakan kita. Ini yang disebut peneguhan eksternal.

Kita juga akan terdorong melakukan perilaku teladan baik kita melihat orang lain yang berbuat sama mendapat ganjaran karena perbuatannya. Secara teoritis, agak sukar orang meniru bahasa Indonesia yang benar bila pejabat-pejabat yang memiliki reutasi tinggi justru berbahasa Indonesia yang salah. Kita memerlukan peneguhan gantian. Walaupun kita tidak mendaat ganjaran (pujian, penghargaan, status, dn sebagainya), tetapi melihat orang lain mendapat ganjaran karena perbuatan yang ingin kita teladani membantu terjadinya reproduksi motor.

Akhirnya tindakan teladan akan kita lakukan bila diri kita sendiri mendorong tindakan itu. Dorongan dari diri sendiri itu mungkin timbul dari perasaan puas, senang, atau dipenuhinya citra diri yang ideal. Kita akan mengikuti anjuran berbahasa Indonesia yang benar bila kita yakin bahwa dengan cara itu kita memberikan kontribusi bagi kelestarian bahasa Indonesia.

4. Fenomena Media Modern (Televisi, HP, dan Internet)

Seiring dengan kemajuan teknologi, komunikasi semakin mudah dilakukan. Karena berbagai media komunikasi kini tersedia dalam berbagai versi, sebagai contohnya adalah TV, hp dan internet. Namun, jika kita teliti kembali, media-media tersebut memiliki pengaruh besar bagi kehidupan kita. Baik itu positif ataupun negatif. Oleh karena itu, dalam pertemuan kali ini, kita akan membahas fenomena media modern tersebut bagi kehidupan kita berikut manfaat media modern dan bahaya, serta contohnya.

a. TV (televisi)

Pengaruh TV terhadap sistem komunikasi tidak lepas dari pengaruh terhadap aspek-aspek kehidupan pada umumnya. Bahwa TV menimbulkan pengaruh terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Sudah banyak yang mengetahui dan merasakannya. Namun, sejauh mana pengaruh yang positif dan yang negatif, belum diketahui banyak. Oleh karena itu, dalam makalah ini, kami akan membahas pengaruh negatif dari TV[5].

Peran merusak dari media komunikasi modern, khususnya TV terhadap sebuah generasi dapat dilihat dari dua aspek sebagai berikut:

1) Dari aspek kehadirannya:

Terjadinya perubahan penjadwalan kegiatan sehari-hari terlebih bagi keluarga Islam. Sebagai contoh adalah, waktu selepas maghrib yang biasanya digunakan anak-anak untuk mengaji dan belajar agama berubah dengan menonton acara-acara yang dominan tidak bermanfaat atau bahkan merusak. Sementara bagi para remaja dan orangtua, selepas bekerja atau sekolah dibandingkan datang ke pengajian dan majlis-majlis ta’lim atau membaca buku, mereka lebih senang menghabiskan waktunya dengan menonton TV.

2) Dari aspek isinya:

Berbicara mengenai isi yang ditampilkan oleh media massa diantaranya adalah mengenai penokohan/orang-orang yang diidolakan. Media massa yang ada tidak berusaha untuk ikut mendidik bangsa dan masyarakat dengan menokohkan para ulama ataupun ilmuwan serta orang-orang yang dapat mensupport bagi terbangunnya bangsa agar dapat mencapai kemajuan (baik IMTAK maupun IPTEK) sebagaimana yang digembar-gemborkan, sebaliknya justru tokoh yang terus-menerus diekspos dan ditampilkan adalah para selebriti yang menjalankan gaya hidup borjuis, menghambur-hamburkan uang jauh dari memiliki IPTEK apalagi dari nilai-nlai agama. Hal ini jelas demikian besar dampaknya kepada generasi muda dalam memilih dan menentukan gaya hidup serta cita-citanya dan tentunya pada kualitas bangsa dan negara.

b. HP (Handphone)

Komunikasi melalui hp adalah bentuk revolusi komunikasi yang melanda Indonesia. Bahkan para remaja dan anak muda kini banyak yang menggunakan hp. Dengan kata lain, hp menjadi fenomena baru dalam sistem komunikasi di Indonesia. Dalam artian, memperlancar sistem komunikasi di Indonesia. Komunikasi bukan sekedar dijalankan melalui pesawat telepon rumah. Sebagai contoh, ketika kita berada di jalan dan kita membawa hp, maka kita tinggal memencet nomor yang dituju. Di sinilah komunikasi nir massa sedang menemukan perkembangannya[6].

1) Manfaat HP:

a. Lebih praktis dan ekonomis.

b. Mudah dijangkau dimanapun kita berada

c. Sebagai media dakwah, bisnis, dll.

2) Bahaya HP:

Segi kesehatan:

Efek radiasi HP. Contoh: ketika kita berkomunikasi melalui HP, suara kita akan berubah menjadi gelombang elektromagnetik yang dapat mempengaruhi produksi sel-sel otak hingga berkembang abnormal dan potensial menjadi sel kanker.

Segi ekonomi:

Komunikasi dengan HP memunculkan praktik bisnis illegal. Contoh: Penipuan yang dilakukan seseorang dengan mengirim sms kepada kita bahwa kita telah memenangkan undian atau semacamnya tanpa kita ketahui kejelasannya.

Segi etika:

a. Fenomena komunikasi dengan menggunakan HP tidak mengindahkan etika dalam penggunaannya. Contoh: suatu kelompok tertentu melobi melalui hp untuk menggulingkan kursi jabatan seseorang, hal ini termasuk melanggar etika.

b. Penggunaan HP di Indonesia lebih digunakan untuk gaya hidup bukan untuk kebutuhan berkomunikasi. Contoh: banyak sekali kita temui remaja saat ini membawa HP dengan dipegang atau dikalungkan di leher.

c. Menurunkan minat baca masyarakat. Menurut data majalah komputer aktif (no. 50/26 Maret 2003) berdasarkan survei Siemens Mobile Lifestyle III menyebutkan bahwa 60 persen remaja usia 15-19 tahun dan pascaremaja lebih senang mengirim dan membaca SMS dari pada membaca buku, majalah, atau koran[7].

c. Internet

Sebagaimana dengan media komunikasi modern lainnya, internet juga mempunyai manfaat bagi masyarakat dalam mencari informasi/mengakses informasi. Namun, hal positif dari Internet ternyata dapat berakibat buruk bila digunakan secara tidak bertanggung jawab. Dengan kata lain, internet juga mempunyai dampak negatif. Dengan demikian, dalam makalah ini kami akan membahas sekelumit dari sekian banyaknya dampak positif maupun negatif dari internet serta pengaruhnya bagi masyarakat.

1) Dampak positif internet:

a. Mudah mengakses/mendapatkan informasi yang di inginkan.

b. Sebagai ajang sillaturrahim. Sebagai contoh adalah: dapat menemukan teman lama yang jauh dan jarang bertemu.

c. Sebagai media bisnis dan dakwah.

d. Menambah wawasan intelektual kita.

2) Dampak negatif internet[8]:

a. Merusak kecerdasan dan nilai moral masyarakat, baik orang dewasa, remaja ataupun anak-anak.

b. Bahayanya situs pornografi yang meluas dikalangan masyarakat.

c. Mengakibatkan kecanduan. Dengan kata lain, membuat pengguna betah untuk berlama-lama di internet sehingga melupakan kewajibannya.

d. Sebagai ajang predator seksual. Sebagai contoh, banyak para pemangsa/predator seksual memanfaatkan ruang rumpi(chatting room) untuk berkenalan, kemudian mengajak berhubungan seksual.

5. Penutup

Perlu diketahui, bahwa penjajahan melalui media komunikasi adalah jauh lebih jahat dan berbahaya dari penjajahan fisik, baik dari sisi biaya, dari sisi persenjataan yg digunakan, dari sisi jangkauan, maupun dari sisi obyek[9].

Pertama dari sisi biaya, peperangan fisik membutuhkan biaya yg sangat mahal. Sementara peperangan media hanya membutuhkan biaya yg murah dan bahkan dapat dikembalikan (melalui iklan).

Kedua dari sisi persenjataan yg digunakan, peperangan fisik menggunakan berbagai senjata canggih yg mahal dan berat. Sedangkan peperangan media cukup menggunakan film-film, diskusi topik, dan iklan.

Ketiga dari sisi jangkauan, peperangan fisik hanya dibatasi di front pertempuran saja. Sementara penjajahan media bisa sampai ke setiap rumah
jauh di pelosok dan di pedalaman.

Terakhir dari sisi obyek, dalam peperangan fisik, obyek merasakan dan mengadakan perlawanan. Sementara melalui peperangan media, obyek sama sekali tidak merasa dan bahkan menjadikan penjajahnya sebagai idola.

Sebagaimana sekelumit penjabaran di atas, disadari atau tidak, media modern saat ini sudah menjadi kebutuhan sekunder bagi penggunanya tanpa mengenal batas usia. Dan tentunya memunyai pengaruh penting dalam kehidupan sehari-hari. Baik pengaruh tersebut positif ataupun negatif. Dari sini dapat disimpulkan bahwa media modern dapat bermanfaat atau sebaliknya. Hal itu tergantung pada penggunanya. Jadi, para pengguna media massa seharusnya mampu bersikap mawas, lalu berdisiplin melakukan filterisasi dalam menggunakannya agar tidak terjadi dampak negatif dari media tersebut.

6. Daftar Rujukan

http://kumpulan.info/keluarga/anak/40-anak/165-lindungi-anak-dari-bahaya-internet.html

http://trimudilah.wordpress.com/2007/04/10/peran-media-komunikasi-modern-tv

McQuail, Denis. 1996. Teori Komunikasi massa Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga.

Nurudin, 2004. Sistem Komunikasi Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Rakhmat, Jalaluddin. 1991. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Uchjana Effendy, Onong. 2003. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, Bandung: Citra Aditya Bakti.

Widjaja, A.W. 1993. Komunikasi dan Hubungan Masyarakat. Jakarta: Bumi Aksara.



[1]http://trimudilah.wordpress.com/2007/04/10/peran-media-komunikasi-modern-tv

[2] A.W. Widjaja. 1993. Komunikasi dan Hubungan Masyarakat. Jakarta: Bumi Aksara. Halaman 76.

[3] Ibid. Halamanan 78.

[4] Denis McQuail. 1996. Teori Komunikasi massa Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga. Halaman 281. Lihat juga: Jalaluddin Rakhmat. 1991. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya. Halaman 223-239.

[5] Onong Uchjana Effendy. 2003. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, Bandung: Citra Aditya Bakti. Halaman 190.

[6] Nurudin, 2004. Sistem Komunikasi Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Halaman 191.

[7] Ibid.

[8] http://kumpulan.info/keluarga/anak/40-anak/165-lindungi-anak-dari-bahaya-internet.html

[9]http://trimudilah.wordpress.com/2007/04/10/peran-media-komunikasi-modern-tv




 

©2009 Wong Aliet | Template Blue by TNB